Posts Tagged ‘religi’

Kehati-hatian dalam berqurban

Posted: 5 November 2011 in Religi_Islam
Tag:

Qurban adalah ibadah yang semua muslimin tahu. Ia adalah perwujudan ibadah dan persembahan hanya kepada Allah semata. Ini pun merupakan implementasi ikrar “inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati liLlahi Rabbil ‘alamiin” (Sesungguhnya shalatku, sesembelihanku, hidupku, dan matiku kupersembahkan hanya kepada Allah Penguasa Alam Semesta).

Seyogyanya, qurban semestinya dilakukan sendiri-sendiri. Siapa yang akan berqurban, maka ia menyembelih sendiri hewan qurban tersebut. Contohlah Nabiyullah Ibrahim alaihis salam, beliau menyembelih sendiri kibas qurbannya. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pun menyembelih sendiri hewan qurban beliau. Demikian juga para sahabat Nabi, mereka menyembelih sendiri hewan qurban-hewan qurban mereka. Tidak ada riwayat hadits tentang Nabi dan para sahabat (laki-laki) mereka disembelihkan hewan qurbannya oleh orang lain.

Disembelihkan
Walaupun berqurban itu seyogyanya, seseorang menyembelih sendiri. Namun diperbolehkan seseorang menitipkan kepada orang lain untuk menyembelihkan qurban mereka. Hal ini berdasarkan perilaku Rasulullah yang menyembelih seekor kambing dan menyebutkan bahwa qurban tersebut adalah dari beliau, keluarga beliau, dan dari muslimin yang tidak mampu berqurban. Artinya apa? Artinya, qurban seekor kambing mencukupi untuk seorang Ayah beserta istri dan anak-anaknya; juga sah seorang istri dan anak-anaknya dihukumi telah ber-qurban walaupun hanya “nebeng/ikut” dalam perqurbanan satu kambing bersama suami.

Sah dan Tidak
Satu kambing hanya sah untuk qurban satu orang beserta keluarganya, dan satu ekor sapi untuk tujuh orang beserta keluarga mereka. Hal ini berdasarkan hadits Jabir. Ia mengatakan: “Kami berqurban bersama Nabi SAW di Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu sapi untuk tujuh orang. “ HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi.

Adapun satu ekor kambing, maka hanya sah untuk satu orang beserta keluarganya (anak dan istrinya).

Dalam era kekinian, maraknya lembaga-lembaga zakat dan masjid-masjid membantu para pequrban dalam melaksanakan qurban mereka adalah sesuatu yang patut disyukuri. Mereka telah memberikan jasa besar dalam tersebarnya ibadah qurban mereka plus syiar Islam.

Namun, pun kita mesti waspada dan hati-hati. Waspada bagi para pequrban dan hati-hati bagi para pengelola lembaga zakat dan pengurus masjid yang menerima amanah titipan dana qurban muslimin. Pequrban mesti waspada dalam menitipkan dana qurban mereka, jangan sampai disembelih oleh orang yang tidak shalat, ahli maksiat, dan lain-lain. Lembaga zakat dan pengurus masjid yang menerima dana qurban muslimin, harus memastikan jangan sampai ada satu rupiah pun dana seorang pequrban masuk dalam seekor kambing pequrban lainnya. Sebab, jika ini terjadi maka satu ekor kambing tersebut bukan milik satu orang pequrban, sebab ada dana lain dari orang lain. Konsekuensinya qurban itu tidak sah. Dan jika ini terjadi, maka keamanahan lembaga penerima dana qurban, baik lembaga zakat maupun pengurus masjid, sangat patut dipertanyakan.

Khatimah
Mengelola amal ibadah yang sifatnya ijtimaiyah, semisal zakat dan qurban, tidak sama seperti mengelola dana retribusi parkir. Ia pada substansinya adalah ibadah murni, bahkan perwujudan tauhid yang murni dan pengingkaran dari persembahan kepada berhala-berhala dunia. Maka, pelaksanaannya harus selalu mengedepankan taqwa kepada Allah, ilmu yang benar tentang kaifiyat qurban beserta pernik-perniknya, dan amanah; jangan sampai ada satu-dua rupiah uang orang lain masuk dalam seekor kambing qurban kita. Wallahu a’lam***.

http://www.siwakz.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=264

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

Posted: 21 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

Sebentar lagi kita akan menginjak bulan Ramadhan. Sudah saatnya kita mempersiapkan ilmu untuk menyongsong bulan tersebut. Insya Allah, kesempatan kali ini dan selanjutnya, muslim.or.id mulai menampilkan artikel-artikel seputar puasa Ramadhan. Semoga dengan persiapan ilmu ini, ibadah Ramadhan kita semakin lebih baik dari sebelumnya.

Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al Qur’an

Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan, ”(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ’alaihimus salam.”[1]

Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”[2]

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.” Lanjut Al Qodhi ‘Iyadh, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” [3]

Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan

Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3).

Dan Allah Ta’ala juga berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan: 3). Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam lailatul qadr. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah[4]. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.[5]

Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Do’a

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”[6]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”.[7] An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.”[8] An Nawawi rahimahullah mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.”[9]

Raihlah berbagai keutamaan di bulan tersebut, wahai Saudaraku!

Semoga Allah memudahkan kita untuk semakin meningkatkan amalan sholih di bulan Ramadhan.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id